Tuesday, September 09, 2008
berkat ramadhanBismillahir Rahmanir Rahim,
In the Name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful.
Assalamualaikum kawan2,
Alhamdulillah, indeed all praises be to Allah.
before coming here, to the island of japan,
i had to attend the japanese matriculation center (jmc)
for 2 years to learn the language.
during those time,
as i was not as friendly with everyone,
i did't mind when people wanna come and talk to me.
most of the time i just let them share with me,
and let them go their way.
when they come again to talk,
i'd listen again and then, let them go away again.
that was how i was,
maybe still am,
i don't really shun people,
but i don't really open up either.
during the first year of jmc in 1997,
because the japanese program started early:
even before the spm results were announced,
some of my fellow friends,
they opted to quit the program for another after the result was announced.
one of them would be a good friend of mine, anas.
we didn't talk much when we were in jmc,
only after he quit do we talk,
never face to face but through the phone,
in the wee hours of the night,
and the usual subject would be?
me giving him advices on how to win the heart of the girl he liked back then.
we lost contact after some time, but Alhamdulillah,
he found me on friendster and things just picked up from there.
it was the usual "guano mung?" and such.
until recently.
since facebook,
i've become a lazy a$$ checking up my friendster account,
but that one day, i decided to check it out and?
i found an unread message from him.
turned out?
he's coming to japan for 2 weeks!
and he was asking for my contact number.
i gave it to him, telling him to ring me up once he's here.
i know you guys already know this,
but i have to admit, that lately
i am mostly busy with work and due dates,
i didn't think much of him coming.
and as for ramadhan:
i willed to do as much as my stamina allows me to.
i didn't know if i was gonna make the most of ramadhan as i should have,
due to workload and fatigue.
but anas came and mang haiiii,
he kept ringing and ringing and ringing me.
so we met up and had dinner together last wednesday.
i didn't think i'd be spending so much time with him,
and i didn't plan to,
but after that,
since last saturday to monday morning,
i did spend my time with him, along with akuie.
we ushered him to disneyland,
machida and all the other places he wanted to go,
shopping for things he wanted to bring home to his wife & kids.
talked alot we did too!
we didn't plan it that way,
but Masya Allah, all the times we talked,
it'd mostly circulate around Him and Rasulullah SAW,
and other islamic topics,
even when the topic started out with something else unrelated.
really!
start with anything,
it could be at a cafe that selling coffee and tea along with cognag on the menu,
or at a japanese traditional tempura shop,
we always end up having tazkirah.
the Might of Allah, the Will of Allah,
trully, Alhamdulillah,
all praises be to Allah!
and the ilmu he shared!
Masya Allah,
he made me nganga all the time.
new things, new stuffs!
things my short akal couldn't reach before. trully,
there's just SOOOOO MUCH of Allah's knowledge i haven't even started to learn!
all this,
my tergerak hati nak check friendster,
him coming over at this time of the year,
when the world almost got my feet again,
ALL of THIS,
they're all from Allah,
and i am deeply grateful.
Allah benarkan,
Allah hitungkan,
Allah says Be, and Be it will.
Alhamdulillah...
monday morning,
me and akuie and anas was sitting on my veranda,
a few hours to fajr, and anas?
he was telling us about Rasulullah SAW's Sakaratul Maut.
he said he couldn't tell the whole jist of it because of the sadness and fear,
and told me he will send over the document from malaysia.
i couldn't wait and looked it up today,
and i cried like a baby.
so here is some ilmu i learned from him,
that i hope i can share with you.
it was new to me,
it may not be new to you,
but still, as a reminder,
for we forget too easily.
Detik-detik Rasulullah SAW Menghadapi Sakaratul MautAda sebuah kisah tentang cinta yang sebenar2 cinta
yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya.
Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning,
burung2 gurun enggan mengepakkan sayap.
Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan khutbah:
"Wahai umatku,
kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya.
Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya.
Kuwariskan dua perkara pada kalian: Al Qur'an dan sunnahku.
Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku
dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama2 aku."
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah
yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu.
Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca,
Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.
Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam2.
Isyarat itu telah datang,
saatnya sudah tiba.
"Rasulullah akan meninggalkan kita semua,"
keluh hati semua sahabat kala itu.
Manusia tercinta itu,
hampir selesai menunaikan tugasnya didunia.
Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas
menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar.
Disaat itu, kalau mampu,
seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.
Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup.
Sedang didalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah
dengan keningnya yang berkeringat
dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
"Bolehkah saya masuk?" tanyanya.
Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,
"Maafkanlah, ayahku sedang demam,"
kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata
dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,"
tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.
Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara,
dialah yang memisahkan pertemuan di dunia.
Dialah malakul maut," kata Rasulullah.
Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri,
tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?"
Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.
Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega,
matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" tanya Jibril lagi.
"Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khuatir, wahai Rasul Allah,
aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:
'Kuharamkan syurga bagi siapa saja,
kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas.
Perlahan ruh Rasulullah ditarik.
Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh,
urat-urat lehernya menegang.
"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini," perlahan Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam
dan Jibril memalingkan muka.
"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?"
tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik,
kerana sakit yang tidak tertahankan lagi.
"Ya Allah, dahsyat nian maut ini,
timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."
Badan Rasulullah mulai dingin,
kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu,
Ali segera mendekatkan telinganya.
"Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku"
"Peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya,
dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii, ummatii, ummatiii..."
"Umatku, umatku, umatku..." Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi.
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lain
agar timbul kesedaran untuk mencintai Allah dan RasulNya,
seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita.
Kerana sesungguhnya,
selain daripada itu hanyalah fana belaka.
-
sumber
"it meant the world to hold a bruising faith
now its just a matter of grace"
edri vented out at9/09/2008 09:23:00 PM
|